Jumat, 06 Januari 2012

NEGERI HARUKU (PELASONA NANOROKO)

 
 

Sepenggal Sejarah Pulau Haruku
Ada yang bilang, pulau Haruku pada mula bernama pulau Omo atau pulau Omo o (bundar) karena kelihatan pulau ini hampir bundar. Kemudian pada waktu kedatangan orang Eropa, pulau ini disebut pulau Buang Besi, karena sebuah kapal orang barat yang berlabuh di negeri Oma (salah satu negeri di pulau Haruku) putus sauhnya. Oleh sebab pelabuhan negeri Oma tidak baik untuk berlabuhnya kapal, maka pelabuhan Haruku lah yang dipilih orang Belanda mendjadi ibu negeri pulau ini dan menjadi tempat kediaman pegawai Pemerintah Belanda dan juga menjadi kepala pemerintahan pulau ini. Teristimewa di Haruku juga terdapat sebuah kota peningalan Protugis yang dinamai "'Zeelandia” oleh Belanda .Oleh karna itu pulau ini disebut pulau Haruku.

Pulau Haruku juga disebut oleh orang tua dulu kala dengan nama NUSA AMA  (Nusa= pulau, Ama= Bapak). Alkisah, tersebutlah asal usul orang Haruku adalah dari Pulau NUSA INA (Nusa= pulau, Ina= ibu) sekarang disebut P. Seram. Karena terjadi peristiwa Rapia Hainuwele, maka terjadi perpindahan sejumlah orang-orang Nusa Ina ke kepulauan Lease, yakni pulau Haruku, pulau Saparua dan pulau Nusa Laut, pulau Ambon dan juga beberapa pulau lainnya. Di pulau ini yang memerintah adalah laki-laki dengan nama Latu Amanusa (raja yang mengangkat pulau). Oleh karena itu disebut NUSA AMA yang berarti pulau Bapak.
Orang-orang yang masuk ke Pulau Haruku kemudian melakukan babat alas
membangun wilayah yang dalam bahasa adat disebut Aman (negeri lama). Menurut
cerita orang tua dulu, ada lima Aman: Aman Thuomoi, Aman Huin, Aman Nuei, Aman Hendatu, dan Aman Heratu. Merekalah yang kemudian dipercaya sebagai cikal bakal sejarah Pulau Haruku. Karena ada Ina, tentu ada Ama. Dipecayai Pulau Haruku merupakan Ama
pasangannya Ina.

Pulau Haruku dapat dibagi atas dua bagain Bagian sebelah utara pulau Haruku ini bernama HATUHAHA (atas batu) dan bagian sebelah selatan bernama HATULOLU (bawah batu atau bagian bawah). Bahagian Hatuhaha atau utara pulau Haruku, didiami oleh Sembilan negeri dalam satu persekutuan erat yang disebut “Pata Rima” (Lima negeri bersaudara atau lima sehati - sekutu), terdiri dari negeri: HURARIU (Hulaliu), PELA - AU (Pellau), KAIROLO (Kailolo), KABA – AU (Kabau), AHAMONI (Ruhumoni).
Sedang bagian HATULOHU didiami oleh sembilan buah negeri dalam satu persekutuan yang rapat disebut "Pata Siwa" (Sembilan negeri bersaudara atau sembilan sehati - sekutu), terdiri dari negeri: Haru - Ukuy (Haruku), Simettele (Samet), Omo o (Oma), Karu-au (Kariu), Wassu-U ( Wasu), Ama ika , Ama tupa,  Ama haruA, dan Ama Mahina. Namun negeri Ama Ika, Ama Tupa, Ama Harua dan Ama Mahina ini, kemudian berhimpun menjadi satu negeri yang disebut "AMAN HORU - I (Aha - Horu artinya negeri baru) atau yang dikenal dengan negeri ABORU. Kemudian hari negeri Kariu berpindah dari selatan ke Utara.

Negeri Haruku
Pada mulanya negeri Haruku bernama Haru – Ukuy atau yang berasal dari sebutan orang Portugis saat akan menginjkan kaki di tanah Haruku. Haru – Ukuy berarti pucuk/ tunas baru. Hal ini terjadi saat para pelaut Portugis sedang mencari tempat untuk berlabuh. Mereka melihat sebuah daratan yang disana terdapat pohon yang baru tumbuh dan akhirnya menyebut Haru – Ukuy lalu seterusnya tempat itu dinamakan Haru – Ukuy.

Haruku adalah salah satu negeri yang berada di pulau Haruku, Maluku Tengah letak geografisnya di anatara pulau Ambon dan pulau Saparua. Haruku, seperti kebanyakan negeri – negeri yang berada di Maluku tengah juga memiliki nama Teong Negeri. Adapun nama Teong Negeri Haruku adalah, PELASONA NANUROKO yang terdiri dari tiga kata yang masing – masing memiliki makna sebagai berikut; PELA: persekutuan, SONA: taputar/ lingkaran dan NANUROKO: baranang lalu loko (berenang kemudian ambil).

Catatan sejarah negeri Haruku sampai saat ini masih sangat susah ditelusuri. Hal ini dikarenakan banyak faktor yang terjadi. Beberapa faktor itu antara lain, dihancurkannya Rumah Raja dan Gereja negeri Haruku pada saat Penjajahan Jepang, yang menyebabkan banyak dari catatan sejarah peninggalan Belanda musnah terbakar. Hanya sebagian akta register yang dapat diselamatkan dan mencadi acuan bagi penelusuran sejarah. Acuan dari register pun hanya sampai pada tahun 1800an (catatan saya sendiri hanya sampai 1823).
Hal berikut yang menjadi faktor susahnya penelusuran sejarah negeri Haruku adalah, banyak dari generasi muda Haruku diluar negeri Haruku yang tidak menaruh minat terhadap  sejarah negeri Haruku dan juga para orang tua (masih hidup, diatas 70 tahun) yang meneruskan cerita sejarah negeri Haruku kepada generasi muda. Saya pun saat mengumpulkan catatan tentang negeri Haruku, melakukuan wawancara langsung ke Haruku dengan opa saya (sepupu dari opa kandung saya) Zeth Talabessy yang kebetulan berdomisili di negeri Haruku. Beliau mengatakan saat ini masih susah untuk  berbicara tentang sejarah negeri, karena banyak dari para sesepuh negeri Haruku yang telah meninggal dunia dan tidak meneruskan cerita – cerita sejarah tentang negeri. Hal ini tentu saja menjadi pekerjaan rumah bagi anak – cucu negeri Haruku di seluruh dunia.
Meskipun susah dalam pencarian data sejarah negeri Haruku, namun saya sempat mendapatkan sedikit cerita sejarah dan data – data yang sedikit menceritakan tentang negeri Haruku yang akan saya sampaikan dibawah ini.

Sepenggal Kisah Negeri Haruku
Di  negeri Haruku terdapat 2 aliran sungai yaitu WAI MEME (air perempuan) dan WAI IRA (air laki - laki). Kedua cabang air ini mengalir turun dan membentuk aliran sungai yang diberi nama air cabang dua yang sangat membantu kehidupan masyarakat yang memiliki dusun maupun yang tidak memiliki dusun. Dusun di negeri Haruku dibagi menjadi dua bagian yaitu dusun/ tanah Pusaka dan dusun/ tanah Dati. Perbedaan dusun/ tanah Pusaka dan dusun/ tanah Dati adalah bahwa dusun/ tanah Pusaka adalah kepunyaan perempuan dan pria, dan memiliki hak yang sama. Sedangkan untuk dusun/ tanah Dati perempuan tidak memiliki hak atasnya. Namun keduanya memiliki persamaan yaitu yang didahulukan adalah anak yang lebih tua/ anak pertama.  

Adapun pelabuhan di negeri Haruku adalah Labuhan besi atau yang dikenal sebagai Labuhan Vektor. Labuhan ini sampai sekarang masih terlihat yaitu yang menjadi tempat pemberhentian speed boat dan menjadi salah satu pintu gerbang ke negeri Haruku selain yang berada di kampung baru. Sayang sekali catatan sejarah tentang nama labuhan ini belum berhasil ditemukan.

Ada satu cerita turun temurun yang saya jumpai mengenai raja negeri Haruku. Cerita ini menyebutkan bahwa ketika terjadi pergantian tahta kepimimpinan dari raja kedua negeri Haruku Tunisaha Risakota (1567 – 1584) kepada penggantinya maka raja memberi kesempatan kepada saudara mudanya (disinyalir fam/ marga Talabessy). Tapi pada saat pelantikan calon raja tersebut tidak dapat melanjutkan perjalanan karena kakinya luka parah (busuk/ boba) karena tertombak saat perang, maka calon raja tersebut mengutus sahabatnya Sahurata Ruhupessy, untuk mewakili dirinya mengambil sumpah dan draft perjanjian.
Namun, sesampainya disana, dewan negeri menganggap bahwa yang datang adalah calon raja. Maka dilantik dan diangkat sumpah terhadap Sahurata Ruhupessy menjadi Raja negeri Haruku. Disebutkan juga bahwa karena merasa ditipu, (dikemudian hari diluruskan karena kesalahpahaman) maka keluarga besar Risakota memutuskan untuk keluar dari negeri Haruku dan mencari daerah baru untuk didiami. Sejarah mencatat bahwa saat ini keluarga fam/ marga Risakota bermigrasi ke negeri Latuhalat di pulau Ambon dan mengganti fam/ marganya dengan penambahan T sehingga menjadi Risakotta. Namun sebelum berdomisili di Latuhalat, keluarga Risakotta pernah mampir di Negeri Kulur.
Semenjak peninggaln fam/ marga Risakota dari negeri Haruku ke negeri Latuhalat, maka tanah/ dusun yang mereka tinggalkan, saat ini menjadi hak milik fam/ marga - marga dari Soa Rumalesi atau Soa Bebas.

Kebenaran cerita ini masih harus diteliti lebih lanjut agar tidak menjadi kerancuan dikemudian hari. Sebagai catatan cerita ini buka bertujuan untuk memecah belah persatuan negeri Haruku atau untuk menimbulkan iri hati satu sama lain. Hal ini saya masukan semata – mata karena alasan sejarah. Jika nanti dikemudian hari terbukti bahwa cerita ini tidak benar, maka catatn sejarah ini akan diluruskan kembali. Sejauh ini saya pribadi masih mencari kebenarannya.
Selanjutnya maka pucuk kepemimpinan negeri Haruku diwariskan secara turun temurun kepada fam/ marga Ferdinandus dari Soa Raja (fam/ marga Ferdinandus ada juga dari Soa Rumalesi/ Soa Bebas) sampai hari ini. Namun dalam perjalanannya sempat diselinggi oleh beberapa fam/ marga lain. Alasan dan penyebabnya pun belum saya temukan.           



Persaudaraan Negeri Haruku dan Negeri Samet
Menurut cerita dan hasil wawancara yang saya lakukan bahwa, pada mulanya Negeri Samet, SAMASURU RESILOLO berada pada sisi Kanan Negeri Haruku (dilihat dari laut), yang berada didekat tanjung Batu Kapal. Diceritakan bahwa pada zaman dahulu kala, rakyat dari negeri Samet sering mendapat gangguan dan diculik oleh orang – orang asing (Mandar/ Makassar) dan sangat ketakutan. Untuk itu Raja negeri Samet meminta bantua kepada Raja dan masyarakat Haruku.

Raja serta masyarakat negeri Haruku memberi bantuan pada saat terjadi perang. Kemudian karena tempat asal negeri Samet dirasa tidak cocok untuk ditinggali, maka Raja dan masyarakat Haruku memberi tanah kepada Raja dan masyarakat negeri Samet di sebelah Kiri (dilihat dari laut) negeri Haruku dan sampai sekarang hubungan saudara kedua negeri ini sangat erat terjaga. Meskipun memiliki struktur adat sendiri – sendiri namun kedua masyarakat adat ini saling bersatu hati dalam segala hal. Hal ini kemudian tertuang dalam satu slogan yang sangat manis terdengar: Haruku Ka Lau, Samet Ka Laut. Haruku ka Dara, Samet Ka Dara. (Haruku ke laut, Samet ke laut. Haruku ke darat, Samet ke darat.) yang berarti kesehatian dalam hal apapun, dan segala pekerjaan menjadi ringan bila dikerjakan bersama.

Fam/ Marga Yang Berasal dari negeri Haruku dan Samet
Karena adanya ikatan persatuan yang kuat dan ditambah dengan letak geografis yang sangat berdekatan, maka fam/ marga yang berada di kedua negeri ini menjadi saling bercampur. Istilah orang Maluku kaluar – maso. Untuk itu saya berpendapat bahwa meskipun tulisan ini bertujuan untuk memperkenalkan negeri Haruku, tapi untuk bagian fam/ marga, saya memasukan juga fam/ marga asal negeri Samet. Adapun Fam/ marga asal negeri Haruku dan Samet adalah sebagai berikut:

Amahoru, Bernardus, Bremer, Dobberd, Fasalbessy, Ferdinandus, Hatupué, Hendatu, Hetharia, Hiskia, Huwai, Joseph, Jordan, Kaihattu, Kakisina, Kisia/Kissya, Kruytzer, Lappia, Lappi(y), Latuharhari, Latupapua, Lesimanuaja, Louhanapessy, Maätita, Mantouw, Manuhuttu, Manusama, Mustamu, Nahuriti, Nirahua, Paijer, Pissireron/Pessireron, Rihia, Risakahu, Ririmassé, Riupassa/Rieuwpassa, Rugebrecht, Selanno, Silveira, Singadji/Sangadji, Sitania, Soldenan/Seldinand, Souissa, Tahija, Talabessy, Titipasanea, Tuahattu, Tuhumuri, Tupamahu, Tutuarima, Wattimena.

Fam/ marga diatas juga sudah termasuk fam/ marga pendatang yang telah berdomisili ratusan tahun sehingga menganggap negeri Haruku dan Samet sebagai negeri mereka sendiri.

Daftar Raja Yang Pernah Memerintah di Negeri Haruku
1540 – 1567    : Hatubessy Risakota (disinyalir sebagai Talabessy Risakota?)
1567 – 1584    : Tunisaha Risakota
1584 – 1608    : Sahurata Ruhupessy (Ferdinandus)
1608 – 1625    : Romentes Ferdinandus
1625 – 1656    : Salvador/ Salvada Ferdinandus
1656 – 1700    : Walling Ferdinandus
1700 – 1729    : Jacob Ferdinandus
1729 – 1749    : Jonas Ferdinandus
1749 – 1778    : Flip Benjamin Ferdinandus
1778 – 1803    : Petrus Ferdinandus (menjadi Pati di Aboru pada tanggal 30 April 1825)
1803 – 1839    : Jacob Chrosneles Ferdinandus
1839 – 1847    : Jacobus Ferdinandus
1847 – 1862    : Kosong
1862 – 1864    : Jacobus Manusama (Ferdinandus)
1864 – 1872    : Bernardus Ferdinandus Calon Raja
1872 – 1884    : Jordan Ferdinandus
1884 – 1888    : Jacob C.D Ferdinandus (dipecat)
1888 – 1940    : Christoffel/ Christofol Manusama (direbut dari Raja Ferdinandus)
1940 – 1946    : Jakomina Manusama (Gelar Tuede Regentes)
1946 – 1949    : Chroneles Rehata (Raja Soya/Bistir Asisten Van Saparua)
1949 – 1978    : Johannes Ferdinandus
1979 – 1980b  : Dominggus Ferdinandus (Caretaker)
1980 – 1989    : Berty Ririmase
1989 – 1993    : Michael Talabessy (Caretaker)
1993 – 1996    : Dominggus Nanlohy (Caretaker)
1996 – 2010    : John Polnaya (Caretaker)
2010 –             : Sefnath Ferdinandus
Sumber: Keterangan Raja-raja yang memegang pemerintahan pada Tahun 1540 di Haruku sesuai perintah Contraleur Saparua membuat Slak Bom Raja-raja tertanggal 05 April 1907 Nomor 406

Struktur Adat Masyarakat Haruku
Seperti juga halnya di pulau - pulau atau daerah lain Maluku pada umumnya, struktur masyarakat adat Haruku, pada hakekatnya, bertumpu pada ikatan hubungan-hubungan kekerabatan dalam suatu satuan wilayah petuanan (batas-batas tanah, hutan atau laut) yang menjadi milik bersama semua warga yang hidup di suatu negeri (pusat pemukiman, kampung atau desa). Para warga negeri tersebut umumnya masih memiliki hubungan-hubungan darah satu sama lain yang terbagi dalam beberapa kelompok SOA (marga besar/ clan) yang merupakan himpunan dari semua mata - rumah (keluarga besar, extended family) yang bermarga sama. Karena itu, struktur masyarakat adat di Maluku, dalam kenyataan sehari-harinya, sebenarnya lebih merupakan dasar pembagian fungsi (tugas) komunal belaka.

LATU PATI: adalah Dewan Raja Pulau Haruku, yakni badan kerapatan adat antar para Raja seluruh Pulau Haruku. Tugas utama lembaga ini adalah mengadakan pertemuan apabila ada keretakan antar negeri (kampung/desa) mengenai batas-batas tanah atau hal-hal lain yang dianggap sangat penting. Tetapi, para Raja ini tidak boleh memaksakan kehendaknya sendiri dan harus mengambil keputusan atas dasar asas kebersamaan dan dengan cara damai.

RAJA: adalah pucuk pimpinan pemerintahan negeri (pimpinan masyarakat adat). Tugas-tugas utamanya adalah:
(a) menjalankan roda pemerintahan negeri;
(b) memimpin pertemuan-pertemuan dengan tokoh
- tokoh adat & tokoh - tokoh masyarakat;
(c) melaksanakan sidang pemerintahan negeri;
(d) menyusun program pembangunan negeri.

SANIRI BESAR
: adalah Lembaga Musyawarah Adat Negeri, terdiri dari staf pemerintahan negeri, para tetua adat dan tokoh-tokoh masyarakat. Tugas utamanya adalah sewaktu - waktu mengadakan pertemuan atau persidangan adat lengkap kalau dianggap perlu dengan para anggotanya (tokoh adat dan tokoh masyarakat).

KEWANG
: adalah lembaga adat yang dikuasakan sebagai pengelola sumberdaya alam dan ekonomi masyarakat, sekaligus sebagai pengawas pelaksanaan aturan-aturan atau disiplin adat dalam masyarakat. Tugas-tugas utamanya adalah:
(a) menyelenggarakan sidang adat sekali seminggu (pada hari Jumat malam);
(b) mengatur kehidupan perekonomian masyarakat;
(c) mengamankan pelaksanaan peraturan sasi;
(d) memberikan sanksi kepada yang melanggar peraturan Sasi Negeri;
(e) meninjau batas-batas tanah dengan desa atau negeri tetangga;
(f) menjaga sertamelindungi semua sumberdaya alam, baik di laut, kali dan hutan sebelum waktu buka sasi;
(g) melaporkan hal-hal yang tidak dapat terselesaikan pada sidang adat (Kewang) kepada Raja dan meminta agar disidangkan dalam Sidang Saniri Besar.

SANIRI NEGERI: adalah Badan Musyawarah Adat tingkat negeri yang terdiri dari perutusan setiap soa yang duduk dalam pemerintahan negeri. Tugas utamanya adalah:
(a) membantu menyusun dan melaksanakan program kerja pemerintah negeri;
(b) hadir dalam sidang-sidang pemerintahan negeri;
(c) membantu Kepala Soa dalam melaksanakan pekerjaan negeri yang ditugaskan kepada soa.

KAPITANG
: adalah Panglima Perang Negeri. Tugas utamanya adalah mengatur strategi dan memimpin perang pada saat terjadi perang yang melanda negeri.

TUAN TANAH
: adalah kuasa pengatur hak - hak tanah petuanan negeri. Tugas utamanya adalah mengatur dan menyelesaikan masalah - masalah dengan desa - desa tetangga yang menyangkut batas - batas tanah serta sengketa tanah petunanan yang terjadi dalam masyarakat.

KEPALA SOA
: adalah pemimpin tiap soa yang dipilih oleh masing masing anggota soa untuk duduk dalam staf pemerintahan negeri. Tugas - tugas utamanya adalah:
(a) membantu menjalankan tugas pemerintahan negeri apabila Raja tidak berada di tempat;
(b) memimpin pekerjaan negeri yang dilaksanakan oleh soa;
(c) sebagai wakil soa yang duduk dalam badan pemerintahan negeri; dan
(d) menangani acara-acara adat perkawinan dan kematian.

SOA
: adalah kumpulan beberapa fam/ marga (clan) yang menjalankan tugas:
(a) melaksanakan pekerjaan negeri bila ada titah (perintah) dari Raja melalui Kepala Soa masing
- masing;
(b) membantu Kepala Soa menangani dan mempersiapkan semua keperluan bagi keluarga
-  keluarga anggota soa dalam upacara - upacara perkawinan dan kematian.

MARINYO
: adalah pesuruh/ pembantu Raja, sebagai penyampai berita dan titah melalui tabaos (pembacaan maklumat) di seluruh negeri kepada seluruh warga masyarakat


Strukrtur Masyarakat Adat Negeri Haruku

Fam/ Marga yang Memiliki Jabatan di Negeri Haruku
Berikut ini adalah fam/ marga yang memiliki jabatan pada struktur masyarakat adat negeri Haruku.
·         Raja                             : fam Ferdinandus
·         Kewang Darat             : fam Kissya
·         Kewang Laut               : fam Ririmasse
·         Kapitan                        : fam Latuharhary
·         Tuan tanah                  : fam Hendatu
·         Soa                              : > soa Raja                             : Latuharhary
                                      > soa Suneth                         : Souissa
                                      > soa Moni                            : Sitanija
                                      > soa Lesirohi                        : Talabessy
                                      > soa Rumalesi (bebas)        : Ferdinandus
·         Marinyo                       : boleh dari fam/ marga apa saja dan tidak bersifat turunan.

Soa Soa Yang Ada di Negeri Haruku
Soa Raja:
  • Latuharhary (kepala Soa)
·         Ferdinandus
·         Hizkia
·         Kissya
·         Bernardus
·         Hendatu
Soa Suneth:
·         Nirahua
·         Souissa (kepala soa)
·         Kaihattu
·         Silvera
Soa Moni:
·         Sitania (kepala Soa)
·         Mustamu
·         Lappy
·         Mantouw
·         Pesireron
·         Jordan
·         Huwai
·         Lewerissa
Soa Lesirohi
·         Talabessy (kepala Soa)
·         Ririmasse
·         Lesimanuaja
·         Sangadji
Soa Rumalesi (bebas)
·         Ferdinandus (kepala soa)
·         Bremer
·         Dobberd
·         Mustamu
·         Tuahattu
·         Wattimena
·         Hetharia
·         Titapasanea
·         Tuhumury

Sasi Ikan Lompa
Di antara semua jenis dan bentuk sasi di negeri Haruku, yang paling menarik dan paling unik atau khas desa ini adalah sasi Ikan Lompa (Trisina baelama; sejenis ikan sardin kecil). Jenis sasi ini dikatakan khas Haruku, karena memang tidak terdapat di tempat lain di seluruh Maluku. Lebih unik lagi karena sasi ini sekaligus merupakan perpaduan antara sasi laut dengan sasi kali. Hal ini disebabkan karena keunikan ikan lompa itu sendiri yang, mirip perangai ikan salmon yang dikenal luas di Eropa dan Amerika. Ikan jenis ini dapat hidup baik di air laut maupun di air kali/ sungai.

Setiap hari, dari pukul 04.00 dinihari sampai pukul 18.30 petang, ikan ini tetap tinggal di dalam kali Learisa Kayeli sejauh kurang lebih 1500 meter dari muara. Pada malam hari barulah ikan - ikan ini ke luar ke laut lepas untuk mencari makan dan kembali lagi ke dalam kali pada subuh hari. Yang menakjubkan adalah bahwa kali Learisa Kayeli yang menjadi tempat hidup dan istirahat mereka sepanjang siang hari, menurut penelitian Fakultas Perikanan Universitas Pattimura Ambon, ternyata sangat miskin unsur – unsur plankton sebagai makanan utama ikan-ikan. Walhasil, tetap menjadi pertanyaan sampai sekarang: dimana sebenarnya ikan lompa ini bertelur untuk melahirkan generasi baru mereka?

Bibit atau benih (nener ikan lompa biasanya mulai terlihat secara berkelompok di pesisir pantai Haruku antara bulan April sampai Mei. Pada saat inilah, sasi lompa dinyatakan mulai berlaku (tutup sasi). Biasanya, pada usia kira-kira sebulan sampai dua bulan setelah terlihat pertama kali, gerombolan anak-anak ikan itu mulai mencari muara untuk masuk ke dalam kali.

Hal-hal yang dilakukan Kewang sebagai pelaksana sasi ialah memancangkan tanda sasi dalam bentuk tonggak kayu yang ujungnya dililit dengan daun kelapa muda (janur). Tanda ini berarti bahwa semua peraturan sasi ikan lompa sudah mulai diberlakukan sejak saat itu, antara lain:
1. Ikan - ikan lompa, pada saat berada dalam kawasan lokasi sasi, tidak boleh ditangkap atau diganggu dengan alat dan cara apapun juga.
2. Motor laut tidak boleh masuk ke dalam kali Learisa Kayeli dengan mempergunakan atau menghidupkan mesinnya.
3. Barang-barang dapur tidak boleh lagi dicuci di kali.
4. Sampah tidak boleh dibuang ke dalam kali, tetapi pada jarak sekitar 4 meter dari tepian kali pada tempat – tempat yang telah ditentukan oleh Kewang.
5. Bila membutuhkan umpan untuk memancing, ikan lompa hanya boleh ditangkap dengan kail, tetapi tetap tidak boleh dilakukan di dalam kali.

Bagi anggota masyarakat yang melanggar peraturan ini akan dikenakan sanksi atau hukuman sesuai ketetapan dalam peraturan sasi, yakni berupa denda. Adapun untuk anak-anak yang melakukan pelanggaran, akan dikenakan hukuman dipukul dengan rotan sebanyak 5 kali yang menandakan bahwa anak itu harus memikul beban amanat dari lima soa (marga besar) yang ada di Haruku.
Pada saat mulai memberlakukan masa sasi (tutup sasi), dilaksanakan upacara yang disebut panas sasi. Upacara ini dilakukan tiga kali dalam setahun. Dimulai sejak benih ikan lompa sudah mulai terlihat. Upacara panas sasi biasanya dilaksanakan pada malam hari, sekitar jam 20.00. Acara dimulai pada saat semua anggota Kewang telah berkumpul di rumah Kepala Kewang dengan membawa daun kelapa kering (lobe) untuk membuat api unggun. Setelah melakukan doa bersama, api induk dibakar dan rombongan Kewang menuju lokasi pusat sasi (Batu Kewang) membawa api induk tadi. Di pusat lokasi sasi, Kepala Kewang membakar api unggun, diiringi pemukulan tetabuhan (tifa) bertalu – talu secara khas yang menandakan adanya lima soa (marga besar) di negeri Haruku.

Pada saat irama tifa menghilang, disambut dengan teriakan Sirewei (ucapan tekad, janji, sumpah) semua anggota Kewang secara gemuruh dan serempak. Kepala Kewang kemudian menyampaikan Kapata (wejangan) untuk menghormati negeri dan para datuk serta menyatakan bahwa mulai saat itu, di laut maupun di darat, sasi mulai diberlakukan (ditutup). Seperti biasanya, sekretaris Kewang bertugas membacakan semua peraturan sasi lompa dan sanksinya agar tetap hidup dalam ingatan semua warga desa. Upacara ini dilakukan pada setiap simpang jalan dimana tabaos (titah, maklumat) biasanya diumumkan oleh Marinyo kepada seluruh warga dan baru selesai pada pukul 22.00 malam di depan Baileo (Balai Desa) dimana sisa lobe yang tidak terbakar harus di buang ke dalam laut.
Setelah selesai upacara panas sasi, dilanjutkan dengan pemancangan tanda sasi. Tanda sasi ini biasanya disebut kayu buah sasi, terdiri dari kayu buah sasi mai (induk) dan kayu buah sasi pembantu. Kayu ini terbuat dari tonggak yang ujungnya dililit dengan daun tunas kelapa (janur) dan dipancangkan pada tempat-tempat tertentu untuk menentukan luasnya daerah sasi.

Menurut ketentuannya, yang berhak mengambil kayu buah sasi mai dari hutan adalah Kepala Kewang Darat untuk kemudian dipancangkan di darat. Adapun Kepala Kewang Laut mengambil kayu buah sasi laut atau disebut juga kayu buah sasi anak (belo), yakni kayu tongke (sejenis bakau) dari dekat pantai, kemudian dililit dengan daun keker (sejenis tumbuhan pantai juga) untuk dipancangkan di laut sebagai tanda sasi. Luas daerah sasi ikan lompa di laut adalah 600 x 200 meter, sedang di darat (kali) adalah 1.500 x 40 meter mulai dari ujung muara ke arah hulu sungai.
Setelah ikan lompa yang dilindungi cukup besar dan siap untuk dipanen (sekitar 5-7 bulan setelah terlihat pertama kali), Kewang dalam rapat rutin seminggu sekali pada hari Jumat malam menentukan waktu untuk buka sasi (pernyataan berakhirnya masa sasi). Keputusan tentang "hari-H" ini dilaporkan kepada Raja Kepala Desa untuk segera diumumkan kepada seluruh warga.
Upacara (panas sasi) yang kedua pun dilaksanakan, sama seperti panas sasi pertama pada saat tutup sasi dimulai. Setelah upacara, pada jam 03.00 dinihari, Kewang melanjutkan tugasnya dengan makan bersama dan kemudian membakar api unggun di muara kali Learisa Kayeli dengan tujuan untuk memancing ikan ikan lompa lebih dini masuk ke dalam kali sesuai dengan perhitungan pasang air laut. Biasanya, tidak lama kemudian, gerombolan ikan lompa pun segera berbondong – bondong masuk ke dalam kali. Pada saat itu, masyarakat sudah siap memasang bentangan di muara agar pada saat air surut ikan-ikan itu tidak dapat lagi keluar ke laut.

Tepat pada saat air mulai surut, pemukulan tifa pertama dilakukan sebagai tanda bagi para warga, tua – muda, kecil – besar, semuanya bersiap - siap menuju ke kali. Tifa kedua dibunyikan sebagai tanda semua warga segera menuju ke kali. Tifa ketiga kemudian menyusul ditabuh sebagai tanda bahwa Raja, para Saniri Negeri, juga Pendeta, sudah menuju ke kali dan masyarakat harus mengambil tempatnya masing – masing di tepi kali. Rombongan Kepala Desa tiba di kali dan segera melakukan penebaran jala pertama, disusul oleh Pendeta dan barulah kemudian semua warga masyarakat bebas menangkap ikan - ikan lompa yang ada.
Biasanya, sasi dibuka selama satu sampai dua hari, kemudian segera ditutup kembali dengan upacara panas sasi lagi. Catatan penelitian Fakultas Perikanan Universitas Pattimura pada saat pembukaan sasi tahun 1984 menunjukkan bahwa jumlah total ikan lompa yang dipanen pada tahun tersebut kurang - lebih 35 ton berat basah: suatu jumlah yang tidak kecil untuk sekali panen dengan cara yang mudah dan murah. Jumlah sebanyak itu jelas merupakan sumber gizi yang melimpah, sekaligus tambahan pendapatan yang lumayan, bagi seluruh warga negeri Haruku. Masalahnya kini adalah: sampai kapan semua itu bisa bertahan?

Perusakan lingkungan (habitat) terumbu karang di pantai Haruku oleh pemboman liar pihak - pihak yang tidak bertanggungjawab tetap berlangsung sampai saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat (melalui Kewang) untuk mencegah semakin meluasnya perusakan tersebut, bahkan sampai ke tingkat memperkarakannya di pengadilan dan kepolisian. Namun, semua upaya itu nyaris buntu semua, seringkali hanya karena penduduk Haruku adalah rakyat kecil yang sederhana dan awam yang tidak memiliki saluran ke pusat-pusat kekuasaan yang berwenang. Dalam keadaan nyaris putus asa dan bingung, seringkali rakyat Haruku merasa bahwa bahkan Hadiah Kalpataru 1985 bagi mereka, lengkap dengan tugu peringatannya di depan Balai Desa Haruku, sama sekali tidak bermakna apa - apa untuk mencegah para perusak lingkungan tersebut.

Legenda Ikan lompa
Menurut tuturan cerita rakyat Haruku, konon, dahulu kala di kali Learisa Kayeli terdapat seekor buaya betina. Karena hanya seekor buaya yang mendiami kali tersebut, buaya itu dijuluki oleh penduduk sebagai "Raja Learisa Kayeli". Buaya ini sangat akrab dengan warga negeri Haruku. Dahulu, belum ada jembatan di kali Learisa Kayeli, sehingga bila air pasang, penduduk Haruku harus berenang menyeberangi kali itu jika hendak ke hutan. Buaya tadi sering membantu mereka dengan cara menyediakan punggungnya ditumpangi oleh penduduk Haruku menyeberang kali. Sebagai imbalan, biasanya para warga negeri menyediakan cincin yang terbuat dari ijuk dan dipasang pada jari - jari buaya itu. Pada zaman datuk - datuk dahulu, mereka percaya pada kekuatan serba - gaib yang sering membantu mereka. Mereka juga percaya bahwa binatang dapat berbicara dengan manusia. Pada suatu saat, terjadilah perkelahian antara buaya - buaya di pulau Seram dengan seekor ular besar di Tanjung Sial. Dalam perkelahian tersebut, buaya - buaya Seram itu selalu terkalahkan dan dibunuh oleh ular besar tadi. Dalam keadaan terdesak, buaya - buaya itu datang menjemput Buaya Learisa yang sedang dalam keadaan hamil tua. Tetapi, demi membela rekan - rekannya di pulau Seram, berangkat jugalah sang "Raja Learisa Kayeli" ke Tanjung Sial.

Perkelahian sengit pun tak terhindarkan. Ular besar itu akhirnya berhasil dibunuh, namun Buaya Learisa juga terluka parah. Sebagai hadiah, buaya - buaya Seram memberikan ikan - ikan lompa, make dan parang parang kepada Buaya Learisa untuk makanan bayinya jika lahir kelak. Maka pulanglah Buaya Learisa Kayeli ke Haruku dengan menyusur pantai Liang dan Wai. Setibanya di pantai Wai, Buaya Learisa tak dapat lagi melanjutkan perjalanan karena lukanya semakin parah. Dia terdampar disana dan penduduk setempat memukulnya beramai - ramai, namun tetap saja buaya itu tidak mati. Sang buaya lalu berkata kepada para pemukulnya: "Ambil saja sapu lidi dan tusukkan pada pusar saya". Penduduk Wai mengikuti saran itu dan menusuk pusar sang buaya dengan sapu lidi. Dan, mati lah sang "Raja Learisa Kayeli" itu.

Tetapi, sebelum menghembuskan nafas akhir, sang buaya masih sempat melahirkan anaknya. Anaknya inilah yang kemudian pulang ke Haruku dengan menyusur pantai Tulehu dan malahan kesasar sampai ke pantai Passo, dengan membawa semua hadiah ikan - ikan dari buaya - buaya Seram tadi. Karena lama mencari jalan pulang ke Haruku, maka ikan parang - parang tertinggal di Passo. Sementara ikan lompa dan make kembali bersamanya ke Haruku. Demikianlah, sehingga ikan lompa dan make (Sardinilla sp) merupakan hasil laut tahunan di Haruku, sementara ikan parang - parang merupakan hasil ikan terbesar di Passo.

Pela Nolloth
Pela antara orang dari negeri Haruku adalah dengan negeri Noloth di pulau Saparua. Ceritanya bermula ketika, anak perempuan bapa Raja Negeri Haruku bernama nona Aihua Pareta Narani yang cantik dan menawan itu pada suatu hari sedang berdiri di depan pantai. Raja Noloth yang bernama Markus Risaluan yang sedang berlayar di sekitar pulau itu melihat sang putri Bapa Raja seketika ia jatuh cinta. Ia perintahkan perahunya mendarat dan berkenalan dengan sang putri. Raja Noloth lalu kembali ke Saparua untuk mempersiapkan peminangan. Ketika raja Noloth dan rombongannya datang, ia mendapati sang putri telah menjadi jasad akibat wabah penyakit yang melanda negeri Haruku. Karena cintanya yang tulus, Raja Noloth minta dikawinkan dengan jasad sang putri. Sejak itu antara negeri Haruku dan negeri Noloth dinyatakan pela kawin.

Dan sampai sekarang masyarakat negeri Haruku menganggap masyarakat Nolloth sebagai kakak, dan hubungan kedua negeri ini terjalin dalam semua sendi kehidupan. Contohnya ketika ada perlombaan Arumbai (perahu) maka persekutuan ini selalu keluar bersama dengan nama NOHASA (Nolloth, Haruku dan Samet). Dipercaya jika salah satu dari ke tiga negeri ini keluar dengan memakai nama negeri sendiri, maka akan terjadi malapetaka bagi mereka. Hal ini pernah terjadi pada sodara pela Nolloth.

Penutup
Basudara ana – cucu negeri Haruku dimana pun berada demikian sekilas cerita tentang Negeri Haruku. Beta Alvin Talabessy mewakili sebagian basar ana – cucu Haruku yang mencintai sejarah batong pung tanah, sangat mengharapkan masukan dan informasi tambahan dari opa – oma, oom – tante, bu – usi, ade – kaka  deng basudara samua supaya kedepannya batong pung  sejarah Negeri Haruku bisa lebih lengkap dan berguna voor batong sandiri.. Maju tarus ana – cucu PELASONA NANUROKO!!

“Ite amani nala, riamatai kawa e, ite amani nala, atou e ta’ele”

sumber: cerita leluhur turun-temurun dari mulut ke mulut, wawancara langsung dengan opa Zeth Talabessy dan opa Ete Bu Talabessy, wawancara via telp dengan oom Abe Lewerissa di Haruku, : http://kewang-haruku.org/,  postingan oom Henry 'Endy' Ferdinandus-Syamsunandar di group Haruku di FB.



0 komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Berdasarkan kecintaan akan tanah kelahiran dan dengan mengumpulkan tulisan dari berbagai sumber, Blog sederhana ini saya buat.Saya berharap Blog ini bisa memberi informasi mengenai Sejarah dan Budaya Maluku kepada pembaca. Jika ada kekurangan atau kesalahan dalam penulisan, saya mohon maaf sebesar-besarnya. TAVEA : -SEI HALE HATU HATU LISA PEI , SEI LESI SOU SOU LESI EI ! MENA MURIA! -KAPITAN MERAH- Son Of Alifuru

remember your roots

remember your roots
 
© Copyright 2035 Son Of Alifuru
Theme by Yusuf Fikri